Kamis, 04 Juni 2020

Mengapa Lambang PSHT Berbentuk Segi Empat dan Kenapa Gambar Hatinya Di Tengah?


Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan,

Lambang PSHT berbentuk segi empat melambangkan empat nafsu yang dimiliki manusia. Dimana keempat nafsu tersebut harus dapat dikendalikan.

Nafsu yang pertama adalah nafsu sufiyah yaitu nafsu untuk bersenang-senang. Hal ini dapat dilihat dari beberapa warga baru yang terlalu hanyut dan larut dalam organisasi. Senang berkumpul dengan teman-teman kadang sering melupakan keluarga, kerjaan atau sekolah. Nafsu ini sering tidak terkendali pada saat baru disahkan menjadi warga.

Nafsu yang kedua adalah nafsu amarah yatu emosi. Nafsu ini juga sering tak terkendali bukan hanya pada awal-awal menjadi warga saja. Namun juga sering terjadi saat salah satu anggota kita terlukai. Nafsu amarah bersifat menghancurkan jadi harus dikendalikan dengan baik.

Nafsu yang ketiga adalah nafsu alwamah yaitu nafsu untuk mempertimbangkan baik dan buruk. Nafsu ini sudah dilandasi keimanan. Biasanya warga yang sudah berpengalaman dan sudah dewasa akan mulai nampak nafsu alwamahnya.



Nafsu yang keempat adalah nafsu mutmainah yaitu nafsu atau keinginan untuk berbuat baik. Nafsu inilah yang harus diperkuat oleh warga agar tercipta hati nurani yang suci, bersih dan bersinar.

Jika dapat mengendalikan semua nafsu maka terciptalah hati nurani yang akan memimpin keempat nafsu.

Selain melambangkan empat nafsu. Lambang PSHT juga menggambarkan sedulur papat lima pancer. dimana sedulur papat adalah kakang kawah, adhi ari-ari, puser lan getih sedangkan ditengah-tengah adalah pancer. Menurut beberapa sumber orang yang memiliki ilmu tersebut salah satunya adalah Kanjeng Sunan Kalijaga.

Beda pemikiran beda penafsiran ada juga yang berpendapat bahwa Lambang PSHT berbentuk segi empat konon katanya melambangkan perisai. Perisai adalah tameng untuk melindungi. Lantas apa yang dilindungi oleh perisai itu? Mungkin yang dimaksud adalah melindungi  diri sendiri. Dalam falsafah jawa ilmu yang dimaksud tameng adalah sedulur papat lima pancer.

Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika ada yang salah karena itu hanya lintasan perenungan saja. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar