Oleh : Puji Hermawan
Salam Persaudaraan
Beberapa diantara kita mungkin pernah mendengar istilah
"Sabda Pandhita Ratu" dalam ilmu kepemimpinan sangatlah penting
ngugemi ajaran budi luhur ini. Agar dalam memimpin tidak membingungkan rakyatnya,
tidak mencla mencle esuk dele sore tempe.
Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola-wali begitulah
kepanjangannya. Dimana seorang pemimpin harus dapat dipegang omongannya, tidak
plin-plan sehingga keputusannya berubah-ubah.
Dalam organisasi PSHT pemimpin bukan hanya para ketua baik
dari tingkat pusat sampai bawah. Pemimpin di PSHT adalah semua warga karena
warga adalah contoh bagi siswa. Bagaimanapun juga seorang warga adalah figur
dimana akan disorot oleh masyarakat. Itulah kenapa setiap warga diberi simbol
kependekarannya berupa mori.
Mori adalah simbul kesucian karena berwarna putih. Warna
putih mudah sekali ternoda untuk itu harus hati-hati dalam merawatnya. Ini
melambangkan bahwa setiap warga harus senantiasa hati-hati dalam berucap maupun
berbuat agar tidak dicemooh ataupun dicela. Bukan perkara mudah menjaga
kesucian. Bukan kita yang meminta dihargai oleh masyarakat namun masyarakatlah
memberikannya sesuai dengan porsi yang tepat. Saudaraku semua keputusan untuk
menjadi warga bukan tanpa konsekuensi, bukan tanpa resiko. Jika jaman dahulu
seorang pendekar akan menghadapi tantangan berkelahi oleh para jawara dari
perguruan lain.
Sekarang jaman sudah berubah. Tantangan seorang warga adalah
menjaga mori agar tetap putih. Yaitu menjaga nama baik, manjaga kesucian dan
menjaga diri dari perbuatan dan perkataan yang tercela. Bukan semakin sesumbar
dengan berbagai kepiawaiannya dalam memainkan senjata dan tingginya ilmu.
Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika ada
salah. Terima kasih.
Sumber : Sujamto,
Sabda Pandita Ratu, Dahara Prize, Semarang, 1993,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar