Jumat, 08 Mei 2020

SABDA PANDHITA RATU


Oleh : Puji Hermawan



Salam Persaudaraan
Beberapa diantara kita mungkin pernah mendengar istilah "Sabda Pandhita Ratu" dalam ilmu kepemimpinan sangatlah penting ngugemi ajaran budi luhur ini. Agar dalam memimpin tidak membingungkan rakyatnya, tidak mencla mencle esuk dele sore tempe.

Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola-wali begitulah kepanjangannya. Dimana seorang pemimpin harus dapat dipegang omongannya, tidak plin-plan sehingga keputusannya berubah-ubah.
Dalam organisasi PSHT pemimpin bukan hanya para ketua baik dari tingkat pusat sampai bawah. Pemimpin di PSHT adalah semua warga karena warga adalah contoh bagi siswa. Bagaimanapun juga seorang warga adalah figur dimana akan disorot oleh masyarakat. Itulah kenapa setiap warga diberi simbol kependekarannya berupa mori.



Mori adalah simbul kesucian karena berwarna putih. Warna putih mudah sekali ternoda untuk itu harus hati-hati dalam merawatnya. Ini melambangkan bahwa setiap warga harus senantiasa hati-hati dalam berucap maupun berbuat agar tidak dicemooh ataupun dicela. Bukan perkara mudah menjaga kesucian. Bukan kita yang meminta dihargai oleh masyarakat namun masyarakatlah memberikannya sesuai dengan porsi yang tepat. Saudaraku semua keputusan untuk menjadi warga bukan tanpa konsekuensi, bukan tanpa resiko. Jika jaman dahulu seorang pendekar akan menghadapi tantangan berkelahi oleh para jawara dari perguruan lain.

Sekarang jaman sudah berubah. Tantangan seorang warga adalah menjaga mori agar tetap putih. Yaitu menjaga nama baik, manjaga kesucian dan menjaga diri dari perbuatan dan perkataan yang tercela. Bukan semakin sesumbar dengan berbagai kepiawaiannya dalam memainkan senjata dan tingginya ilmu.

Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika ada salah. Terima kasih. 
Sumber : Sujamto, Sabda Pandita Ratu, Dahara Prize, Semarang, 1993,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar