Senin, 18 Mei 2020

Guna lan Tapa Kalah Dening Sabar lan Narima


Oleh : Puji Hermawan



Salam Persaudaraan

Dalam ajaran PSHT jaman saya siswa dulu dikenal tiga tingkatan keilmuan. Ketiga tingkatan itu memiliki sifat dan ciri-ciri yang berbeda. Ketiga tingkatan itu akan dilalui secara berurutan tidak dapat acak.

Tingkatan pertama adalah Sekti atau sakti yaitu gambaran dari Warga tingkat satu atau trap satu. Pada tingkatan ini ambisi untuk mencari ilmu sangat tinggi. Sering berguru ke sana kemari baik dari warga PSHT maupun dari luar. Hal ini wajar maka dari itu perlu pondasi dan proteksi diri yang cukup agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Kadang muncul sifat Adigang adigung adiguna jika tidak dapat mengontrol. Hal ini merupakan ujian dari tingkatan sekti. Tidak ada yang ditakutinya siapa saja yang menghalangi keinginannya akan dilawan. Ingat untuk menghadapi tingkatan ini jangan dihadapi dengan otot. Sura Dira Jaya Ningrat Lebur Dening Pangastuti lawanlah dengan kesabaran dan kelembutan. Maka dari itu PSHT tidak memberikan senjata yang keras melainkan yang lembut yaitu mori.

Baca juga : Kewibawaan


Tingkatan yang kedua adalah Ngerti atau Waskita yaitu tingkat mengerti. Tingkatan ini adalah gambaran Warga tingkat dua atau trap dua. Pada tingkatan ini ambisi untuk mencari ilmu kesaktian sudah berkurang. Ilmu untuk membimbing dan ngemong sangat dominan. Maka dari itu menjadi warga trap dua adalah mutlak harus bisa menjadi contoh yang baik pada warga tingkat satu. Konsekuensi orang yang sudah mencapai tataran atau tingkatan ini adalah menahan diri dari menggunjing. Karena pada tingkatan ini akan dibuka ilmunya untuk melihat kelemahan-kelemahan orang lain bahkan aib orang lain. Ujian pada tingkatan ini adalah menggunjingkan kejelekan orang lain.

Yang terakhir adalah tingkat tiga yaitu Sabar lan Narima. Pada tingkatan ini sudah tidak tertarik dengan keilmuan yang bersifat duniawi. Ini adalah gambaran Warga tingkat tiga atau trap tiga. Pada tingkatan ini biasanya sudah merasa cukup dengan duniawi. Lantas apakah pada tingkatan ini sudah tidak ada ujiannya? tetap ada. Selama Hayat Masih Dikandung Badan selama jiwa belum terpisah dengan raga selama itu pula nafsu belum lepas. Maka cobaan pada tingkatan ini adalah nama besar. Apakah kebesaran nama akan menjadikannya lupa atau tidak. Itulah ambisi pada tingkatan ini yaitu nama besar.

Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika
ada yang salah. Mohon maaf bukan maksud hati menyinggung kadang sepuh karena itu hanya lintasan perenungan saja.  Terima kasih.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar