Minggu, 24 Desember 2023

Sepira Gedhene Sengsara Yen Tinampan Amung Dadi Coba

Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan, 

"Sepira gedhene sengsara yen tinampan amung dadi coba" merupakan falsafah luhur ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Setiap siswa baru hendaknya selalu dikenalkan dengan falsafah luhur ajaran PSHT. Pada awal siswa masuk selalu dikenalkan dengan falsafah yang satu ini. Sepira gedhene sengsara yen tinampan amung dadi coba, seberapa besar kesengsaraan jika diterima hanya sebagai cobaan. Selama siswa semua penderitaan dan kesengsaraan hanyalah cobaan yang mana setiap siswa diuji keseriusannya minat bergabung.

Baca juga https://sesuluhqolbu.blogspot.com/2021/01/pendekar-pilih-tanding.html

Falsafah ini dilambangkan dalam pasang satu atau jurus satu. Posisi pasang satu ibarat anak yang baru belajar berjalan dengan sempoyongan dan sering terjatuh ditendang dipukul. "Tega larane ora tega patine" itulah kakak pelatih dalam melatih tega melihat adiknya menderita walau sebenarnya kakak pelatih tidak tega jika adiknya kalah di luar. Persaingan hidup memaksa diri harus kuat agar dapat menang. Begitu juga dengan semangat yang kadang naik kadang turun. Jika baru masuk maka penderitaan akan dialami hanya sebagai cobaan dan semua akan berbuah manis jika kita kuat dalam menjalaninya.

Demikian yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat.

Rabu, 27 Januari 2021

YEN WANI AJA WEDI-WEDI YEN WEDI AJA WANI-WANI

Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan,

Jika berani jangan takut-takut jika takut jangan berani-berani. Begitulah kurang lebih arti judul di atas. Lantas apa makna yang sebenarnya dari ungkapan di atas?.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang harus diputuskan. Dimana dalam pengambilan keputusan hanya ada dua pilihan yaitu ya atau tidak. Jika salah dalam mengambil keputusan dapat berakibat fatal. Suatu misal jika kita ditantang bertarung dengan orang lain tentu kita akan mempertimbangkan antara ya dan tidak. Jika lawan yang menantang memiliki kemampuan yang seimbang dengan kita tentu kita tidak banyak berpikir untuk menerima tantangannya. Namun jika lawannya jauh melebihi kemampuan kita maka perlu pertimbangan yang matang.

Yen wani aja wedi-wedi mengandung arti jika kita berani ya tidak usah takut. Kita harus mantap dalam mengambil keputusan jangan ragu-ragu. Yen wedi aja wani-wani mengandung arti kalau kita takut ya jangan main-main jangan iseng dalam mengambil keputusan. Makna ungkapan seperti judul di atas bukan hanya dalam urusan pertarungan saja. Dalam berbagai pekerjaan juga sering kita dihadapkan dengan permasalahan yang serupa. Sebagai contoh jika kita ditawari pekerjaan atau proyek dengan nilai tinggi maka kita harus berpikir yang matang. Jika diterima kita sanggup atau tidak dalam mengerjakannya karena akan ada konsekwensi setelah kita mengambil keputusan. Jika proyek yang ditawarkan masih dalam batas kemampuan kita maka kita harus segera ambil keputusan untuk menerima agar tidak kehilangan kesempatan. Namun jika proyek yang ditawarkan jauh melebihi kemampuan dan kapasitas kita, jangan main-main dan berspekulasi dalam menerima proyek. Hal ini akan berakibat fatal.

Baca juga : Aja Wedinan

https://youtu.be/ZF0DXB5-LX0


Maka dari itu kita harus memiliki kemampuan dan kecakapan dalam menilai kapasitas diri kita. Orang yang memiliki kecakapan dalam menilai diri sendiri tidak akan mengunggulkan diri dengan omong besar. Keyakinan dalam melangkah akan dimiliki oleh orang yang mampu mengukur kemampuan diri. Kesederhanaan dalam berucap dan bersikap juga akan melekat pada diri orang yang mampu introspeksi diri. Kemantapan dalam mengambil keputusan dan tidak ragu-ragu adalah cerminan orang yang memiliki kecakapan. Tinggalkan keraguan dan tetap semangat dalam melangkah. Demikian yang dapat saya sampaikan dan terima kasih telah menyempatkan membaca.

Selasa, 26 Januari 2021

AJA WEDINAN

Oleh : Puji Hermawan


 Salam Persaudaraan,

Aja wedinan yang artinya jangan penakut adalah falsafah yang sering didengar hampir semua orang dari suku dan bangsa manapun. Sejak kecil kita selalu dididik oleh orang tua untuk tidak menjadi anak yang penakut. Apapun profesi orang tua kita, bagaimanapun keadaan orang tua kita mereka selalu menginginkan agar anaknya tidak penakut. Karena rasa takut dapat membelenggu diri kita dan berakibat menghambat kemajuan kita.

Baca juga : Aja Kagetan

Rasa takut sering menghinggapi perasaan kita. Kadang-kadang rasa takut itu sering tidak beralasan. Seperti halnya takut air, takut ketinggian, takut kegelapan dan masih banyak lagi. Untuk menghilangkan rasa takut sejak kecil harus dibiasakan dan dilatih untuk mendekati hal-hal yang menjadikannya takut. Sebagai contoh jika anak takut pada air maka harus sering dilatih untuk mendekati air. Kenapa rasa takut itu muncul? Rasa takut itu muncul karena bayangan yang mengerikan terhadap objek yang ditakuti. Misalnya takut tenggelam, takut sakit, takut mati dan lain sebagainya.

Secara garis besar rasa takut itu adalah, takut mati, takut sakit dan takut malu. Seseorang yang tidak memiliki keyakinan kuat sering dihinggapi rasa takut mati. Padahal kematian itu pasti. Setiap yang bernafas pasti akan mati, dan kematian itu selalu datang tiba-tiba. Tidak ada seorangpun yang tahu pasti kapan kematian akan datang. Orang yang takut mati beralasan belum siap karena masih belum cukup bekal. Jika sadar belum cukup bekal kenapa masih sering melakukan dosa dan maksiat? Harusnya jika perasaan takut mati itu masih hinggap pada diri seseorang maka harus meningkatkan amal kebajikan.

Rasa takut berikutnya adalah takut sakit. Sakit adalah rasa yang disebabkan oleh suatu sebab. Sakit dapat ditimbulkan dari akibat kecelakaan atau kesalahan dari diri sendiri atau orang lain. Sakit yang timbul akibat diri sendiri yang gagal melakukan sesuatu akibat kurang kompeten atau kurang cakap dalam melakukannya. Kecelakaan atau gagal dalam melakukan sesuatu juga dapat disebabkan karena faktor lain seperti faktor lingkungan. Maka dari itu berpikirlah sebelum bertindak. Berbuatlah sesuai dengan kemampuan. Tingkatkan kemampuan dengan cara berlatih.

https://youtu.be/8aiMMTnzoWU

Rasa takut berikutnya adalah takut malu. Takut malu biasanya timbul karena takut salah. Jika kita berpihak pada kebenaran maka hendaknya tidak perlu takut. Takut salah dalam melakukan sesuatu. Kita harus berpikir sebab akibat. Jika kesalahan yang dapat ditimbulkan berakibat fatal kita perlu pemikiran lebih jauh. Namun jika kesalahan tidak berakibat fatal maka kita tidak perlu takut karena kita dapat belajar dari kesalahan. Demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan.

Selasa, 19 Januari 2021

AJA KAGETAN

 

Oleh : Puji Hermawan


 

Salam Persaudaraan,

Aja kagetan dalam bahasa jawa yang artinya jangan suka terkejut atau mudah terkejut mempunyai makna hampir mirip dengan aja gumunan atau jangan mudah takjub. Orang yang kagetan atau mudah terkejut tidak mudah menguasai diri atau mengendalikan diri. Orang yang terkejut sering tidak dapat mengendalikan diri. Sebagai contoh orang yang mengendarai kendaraan terkejut saat mendengar suara klakson dari kendaraan lain yang lebih besar secara mendadak maka akan dapat mengakibatkan kecelakaan. Itu gambaran mudah tentang terkejut.

Baca juga : Aja Gumunan

Terkejut yang akan dibahas di sini bukanlah terkejut seperti yang disebutkan di atas. Terkejut di sini lebih menekankan pada terkejut jika mendengar atau mengetahui suatu informasi yang tidak diinginkan. Mendengar informasi yang tidak diinginkan kadang-kadang dapat menimbulkan rasa terkejut atau kaget. Bahkan dapat menimbulkan hilangnya kesadaran. Kondisi seperti inilah kadang-kadang dimanfaatkan oleh lawan untuk menyerang mental musuhnya walaupun isi informasinya adalah bohong belaka. Cara-cara seperti ini sering disebut juga dengan perang opini. Dahulu para pendekar sebelum melakukan pertarungan secara fisik mereka mengadakan perang urat syaraf atau perang mental. Mereka saling menyerang dengan kata-kata hinaan, ejekan atau sindiran untuk menyerang satu sama lain.

Lain dulu lain sekarang. Jaman sekarang pemilihan calon pemimpin diselenggarakan debat antar calon dengan tujuan adu visi dan misi. Berbagai aturan dibuat agar tidak melebar dari tema dan mengedepankan etika dalam menyampaikan pendapat. Namun pada kenyataannya banyak peserta debat yang lepas kontrol dan melebar dari tema dengan tujuan menjatuhkan lawannya.

https://www.youtube.com/watch?v=w0JLjt3kOUQ

Orang yang sudah dapat mengendalikan diri karena tidak kagetan akan tampil lebih tenang. Orang yang tidak kagetan dapat berfikir lebih tenang pula. Dengan berpikir tenang maka lebih mudah membaca taktik yang akan digunakan oleh lawan. Dengan demikian memenangkan pertarungan akan lebih mudah.

Jika kita dapat menguasai diri karena tidak kagetan maka kita tidak mempan gertakan. Lawanpun akan memeras otak agar mental kita jatuh. Berbagai metode dari gertakan, tipuan sampai fitnah pun kadang dilakukan demi menjatuhkan mental lawan. Akhirnya lawan kehabisan tenaga karena letih. Demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf jika ada kekeliruan. Terima kasih.

Senin, 18 Januari 2021

AJA GUMUNAN

 Oleh : Puji Hermawan


 

Salam Persaudaraan,

Aja gumunan yang dalam bahasa Indonesia adalah jangan mudah heran atau takjub jika melihat, mendengar atau mengetahui sesuatu yang baru. Orang yang mudah takjub akan mudah lepas kesadaran diri atau alam bawah sadarnya sehingga mudah dipengaruhi oleh orang lain. Mudah dimasuki pengaruh buruk sehingga orang tersebut dalam kendali orang lain seperti gendam atau hipnotis. Hal ini dapat terjadi jika kurang keyakinan pada diri sendiri. Seseorang merasa kurang yakin pada diri sendiri karena kurangnya motivasi.

Seorang warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada dasarnya adalah motivator bagi para siswa. Untuk itu seorang warga PSHT haruslah senantiasa belajar menambah pengetahuan dan menambah pengalaman agar dapat memotivasi siswa dengan baik. Orang yang banyak pengalaman dan pengetahuan tidak akan mudah heran dan takjub jika melihat sesuatu yang baru dilihat. Banyak sekali sumber-sumber pengetahuan untuk belajar. Membaca, mendengar dan melihat merupakan usaha untuk menambah pengetahuan. Sering bertanya dan berkonsultasi dengan warga senior juga dapat menambah pengetahuan. Mengapa orang yang banyak pengalaman dan pengetahuan tidak mudah takjub? Hal ini disebabkan karena mungkin hal yang baru dilihatnya pernah diperoleh informasi dari membaca atau mendengar pengalaman orang lain. Sehingga tidak heran dengan sesuatu yang baru dilihatnya.

Baca juga : Aja Dumeh

https://youtu.be/bBDmPaooM3M

Orang yang mudah takjub menunjukkan kurangnya pengetahuan dan pengalaman. Selain itu juga menunjukkan kurang dapat menguasai diri sehingga dirinya mudah dikuasai orang lain. Orang yang mudah heran biasanya juga mudah emosi dan mudah tersinggung. Maka dari itu seorang warga PSHT janganlah mudah takjub jika melihat orang yang memiliki ilmu-ilmu tertentu yang biasa dipertunjukkan untuk pertunjukan. Warga PSHT harus mempunyai prinsip jika orang lain bisa melakukan, saya pun bisa jika mau belajar. Aja gumunan jika melihat orang lain menunjukkan ilmunya. Harusnya merasa iri dengan orang yang memiliki sifat dan karakter lebih baik dari diri kita. Ilmu-ilmu untuk pertunjukan hanyalah sekedar untuk hiburan atau selingan. Yang paling utama adalah ilmu untuk bekal perjalanan menuju ke hadirat Illahi. Ilmu yang paling utama adalah ilmu untuk mempersiapkan pertemuan kita dengan Sang Pencipta.

Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika ada yang salah. Terima kasih. 

Jumat, 15 Januari 2021

AJA DUMEH

Oleh : Puji Hermawan


 

Salam Persaudaraan,

Aja dumeh dalam falsafah jawa yang berarti jangan mentang-mentang merupakan pitutur luhur bangsa indonesia khususnya suku jawa. Jangan mentang-mentang mengandung arti yang luas. Jangan mentang-mentang berkuasa, jangan mentang-mentang kaya jangan mentang-mentang menjadi anak pejabat dan lain-lain. Aji mumpung bisa menjadi hal yang negatif jika disalahgunakan. Namun demikian tidak semua aji mumpung merupakan hal yang tidak baik. Aji mumpung merupakan memanfaatkan keadaan atau situasi. Jika bertujuan baik dan dilakukan dengan cara yang baik juga tidak menjadi masalah. Sebagai contoh, seseorang yang sedang naik daun atau sedang populer, dengan popularitasnya yang tinggi  tertarik mengikuti pemilihan kepala daera atau pemilihan anggota legislatif. Jika kepopulerannya diraih dengan cara yang baik dan dikenal dengan segala kebaikannya adalah wajar jika memanfaatkan situasi dan kepopulerannya untuk maju dalam pilkada atau pileg. Yang terpenting adalah dalam mendapatkan popularitas dan simpati masyarakat melalui cara yang baik pula.

Dumeh atau mentang-mentang sering dialami oleh orang yang baru mendapatkan kenikmatan duniawi, baik itu kekuasaan, kekayaan atau jabatan. Rasa ini kadang-kadang muncul pada warga Persaudaraan Setia Hatin Terate (PSHT) terutama warga baru. Tetapi tidak jarang warga senior yang merasa sebagai senior muncul rasa dumeh tersebut. Mentang-mentang senior kadang dengan yunior sewenang-wenang. Merasa haus kehormatan dan penghargaan. Tersinggung jika diingatkan, merasa paling benar. Kadang banyak warga PSHT yang pandai memberikan pengarahan tetapi dirinya sendiri jauh dari watak tersebut.

Baca juga : Pendekar Pilih Tanding

https://youtu.be/oTdnYKaYQ6s

Rasa dumeh ini biasanya muncul pada diri seseorang jika berhadapan dengan orang yang berada di bawahnya. Orang kaya akan muncul rasa dumeh ini jika berhadapan dengan orang yang miskin. Orang yang punya kekuasaan juga akan muncul rasa dumehnya jika berhadapan dengan bawahannya. Demikian juga seorang warga PSHT akan muncul rasa tersebut jika di depan siswa atau di depan warga yunior. Rasa dumeh ini dekat sekali dengan kesombongan. Di mana rasa sombong akan menghancurkan orang yang memilikinya. Maka dari itu sebagai warga PSHT harus betul-betul menghindari rasa dumeh agar tidak menjadi sombong. Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf atas segala kekurangan. Terima kasih. 

Kamis, 14 Januari 2021

PENDEKAR PILIH TANDING

 Oleh : Puji Hermawan


 

Salam Persaudaraan,

Bertanding dalam dunia persilatan adalah hal yang biasa terjadi. Seorang kesatria tidak akan mengelak jika ditantang untuk berkelahi. Namun demikian seorang pendekar atau kesatria hendaklah memilih lawan yang sebanding. Jika ditantang oleh lawan yang tidak sebanding hendaknya tidak menerima tantangannya itu. Jika lawan yang menantangnya memiliki kelas jauh di bawah kemenangan tidak akan menjadikan derajatnya meningkat justru akan menjatuhkan martabatnya apa lagi jika kalah. Jika yang menantangnya memiliki kemampuan jauh di atasnya itupun akan membahayakan nyawanya. Jangan takut harga dirinya jatuh jika menolak tantangan dari lawan yang tidak sebanding. Justru dengan menerima tantangan tanpa memilih lawan yang sebanding akan tampak kurang berwibawa.

Baca juga : Menang Tanpa Ngasorake

https://www.youtube.com/watch?v=couGJc0lI4s&t=8s

Jika posisinya sebagai penantang juga harus pilih-pilih lawan yang sebanding. Jika lawan yang dipilih memiliki kemampuan jauh di bawahnya maka kejadiannya juga sama tidak akan menaikkan derajatnya. Menantang orang yang memiliki kemampuan jauh di bawahnya justru akan menjatuhkan wibawanya. Orang lain akan menganggap sewenang-wenang dan menindas orang kecil. Menantang orang yang memiliki keunggulan jauh di atasnya juga tidak layak dilakukan, selain akan mendapat cemooh dari orang lain juga akan menjatuhkan martabatnya sendiri. Selain itu juga dianggap sebagai orang yang tidak dapat berkaca pada diri sendiri, orang yang tidak tahu diri. Bisa juga dianggap kurang ajar atau kurang tata krama.

Itulah sebabnya seorang pendekar haruslah pandai dalam memilih lawan. Tidak asal ada musuh dilawan semua tanpa berpikir akibatnya. Tidak asal menerima tantangan karena akan mempertaruhkan kewibawaannya. Seorang pendekar yang pilih tanding akan sangat diperhitungkan oleh lawan-lawannya. Maka dari itu hendaklah warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) menjadi pendekar yang pilih tanding. Tidak mudah marah, tidak mudah tersulut emosi. Warga PSHT haruslah mampu menilai baik buruknya suatu permasalahan. Mampu berfikir efek dan akibat dari perbuatannya. Sehingga tidak menjadikan keresahan bagi lingkungan. Dengan menjadi pendekar pilih tanding diharapkan dapat menjaga kewibawaan pribadi dan organisasi. Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika ada yang salah. Terima kasih.

Sumber : Alm. Mas Bambang Lukiarso dan Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang.