Rabu, 13 Januari 2021

MENANG TANPA NGASORAKE

 Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan,

Dalam dunia persilatan memenangkan pertarungan adalah dambaan para pendekar. Tidak sedikit peristiwa kemenangan dalam pertarungan menyisakan permasalahan. Dendam sering menjadikan efek samping dalam sebuah pertarungan. Mengapa dendam selalu muncul dalam setiap pertarungan? Hal ini dapat dicegah jika para petarung menggunakan taktik “Menang tanpa ngasorake”.

Menang tanpa ngasorake adalah falsafah bijak yang sering diajarkan di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Namun demikian tidak sedikit warga PSHT yang belum memahami hal ini. Menang tanpa ngasorake dalam bahasa Indonesia adalah menang tanpa merendahkan. Jika semua warga PSHT memahami dan mengamalkan falsafah ini tidak akan terjadi dendam pasca pertandingan atau pertarungan. Menang tanpa ngasorake harus dipahami oleh semua pihak. Baik sporter maupun para petarungnya. Pihak yang menang tidak perlu over acting karena memenangkan sebuah pertarungan. Pihak yang kalah pun haruslah menerimanya dengan lapang dada. Karena dalam sebuah pertarungan hanya ada dua kemungkinan yaitu kalah atau menang. Para petarung haruslah menghargai lawan dan tetap sportif dalam memenangkan pertandingan. Pihak yang menang haruslah menghargai pihak yang kalah dengan tetap mengedepankan rasa peri kemanusiaan dan menjaga perasaan pihak yang kalah.

Baca juga : Digdaya Tanpa Aji

https://www.youtube.com/watch?v=gPGPEJh57C8&t=44s

Selain dalam pertarungan, falsafah ini juga berlaku bagi pihak-pihak yang saling berselisih. Pertarungan non fisik bisa saja terjadi kepada siapapun. Jika kedua belah pihak memiliki jiwa kesatria yang besar tentu akan dapat menjaga perasaan masing-masing. Perlakuan arif dan bijaksana terhadap lawan mencerminkan pribadi yang luhur, menunjukkan keagungan budi pekerti. Hal ini juga dapat menjadi parameter tinggi rendahnya ilmu seseorang. Orang yang kalah dalam pertarungan melawan orang yang arif dan bijaksana, memiliki karakter bagus dan mempunyai ilmu sangat tinggi dapat menerimanya dengan lapang dada. Hal ini disebabkan perlakuan pihak yang menang tidak sewenang-wenang.

Lantas apakah ada orang yang seperti itu? Tentu saja ada jika orang tersebut memiliki akhlaq yang mulia. Hal inilah yang sebenarnya ditanamkan secara terus menerus di PSHT dari siswa hingga menjadi warga. Saling menghamat-hamati menjadi kunci utama keberhasilan dalam menjaga ajaran PSHT. Demikian yang dapat saya sampaikan dan semoga para warga PSHT tetap menjaga ajaran ini untuk tetap memayu hayuning bawana. Terima kasih.

Sumber : Alm. Mas Bambang Lukiarso dan Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar