Oleh : Puji Hermawan
Salam Persaudaraan,
Dalam dunia persilatan
memenangkan pertarungan adalah dambaan para pendekar. Tidak sedikit peristiwa
kemenangan dalam pertarungan menyisakan permasalahan. Dendam sering menjadikan
efek samping dalam sebuah pertarungan. Mengapa dendam selalu muncul dalam
setiap pertarungan? Hal ini dapat dicegah jika para petarung menggunakan taktik
“Menang tanpa ngasorake”.
Menang tanpa ngasorake adalah
falsafah bijak yang sering diajarkan di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Namun demikian tidak sedikit warga PSHT yang belum memahami hal ini. Menang
tanpa ngasorake dalam bahasa Indonesia adalah menang tanpa merendahkan. Jika
semua warga PSHT memahami dan mengamalkan falsafah ini tidak akan terjadi
dendam pasca pertandingan atau pertarungan. Menang tanpa ngasorake harus
dipahami oleh semua pihak. Baik sporter maupun para petarungnya. Pihak yang
menang tidak perlu over acting karena memenangkan sebuah pertarungan. Pihak
yang kalah pun haruslah menerimanya dengan lapang dada. Karena dalam sebuah
pertarungan hanya ada dua kemungkinan yaitu kalah atau menang. Para petarung
haruslah menghargai lawan dan tetap sportif dalam memenangkan pertandingan.
Pihak yang menang haruslah menghargai pihak yang kalah dengan tetap
mengedepankan rasa peri kemanusiaan dan menjaga perasaan pihak yang kalah.
Baca juga : Digdaya Tanpa Aji
https://www.youtube.com/watch?v=gPGPEJh57C8&t=44s
Selain dalam pertarungan,
falsafah ini juga berlaku bagi pihak-pihak yang saling berselisih. Pertarungan
non fisik bisa saja terjadi kepada siapapun. Jika kedua belah pihak memiliki
jiwa kesatria yang besar tentu akan dapat menjaga perasaan masing-masing.
Perlakuan arif dan bijaksana terhadap lawan mencerminkan pribadi yang luhur,
menunjukkan keagungan budi pekerti. Hal ini juga dapat menjadi parameter tinggi
rendahnya ilmu seseorang. Orang yang kalah dalam pertarungan melawan orang yang
arif dan bijaksana, memiliki karakter bagus dan mempunyai ilmu sangat tinggi
dapat menerimanya dengan lapang dada. Hal ini disebabkan perlakuan pihak yang
menang tidak sewenang-wenang.
Lantas apakah ada orang yang
seperti itu? Tentu saja ada jika orang tersebut memiliki akhlaq yang mulia. Hal
inilah yang sebenarnya ditanamkan secara terus menerus di PSHT dari siswa
hingga menjadi warga. Saling menghamat-hamati menjadi kunci utama keberhasilan
dalam menjaga ajaran PSHT. Demikian yang dapat saya sampaikan dan semoga para
warga PSHT tetap menjaga ajaran ini untuk tetap memayu hayuning bawana. Terima
kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar