Oleh : Puji Hermawan
Salam Persaudaraan,
Sewaktu saya masih menjadi siswa Persaudaraan Setia Hati
Terate (PSHT) kalimat itu sering terdengar saat menerima ke-SH-an. Digdaya
tanpa aji atau yang menurut bahasa indonesia adalah “Sakti tanpa ajian” sering
dilontarkan oleh beberapa warga senior dalam memberikan kerohanian atau ke
–SH-an. Digdaya tanpa aji atau sakti tanpa ajian mengandung arti yang sangat
luas. Memang tampak tidak lazim jika orang sakti tetapi tidak memiliki ajian
atau ilmu kedigjayaan. Hal ini memang sangat membingungkan.
Banyak falsafah jawa yang serba bolak balik kata yang
mengandung arti kebalikan, seperti, sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji dan
lain sebagainya.
Digdaya atau digjaya atau pula sakti adalah orang yang
memiliki ilmu kesaktian atau kedigjayaan atau sering disebut ajian. Namun bagaimana
jika orang tidak memiliki ilmu kedikjayaan, ilmu kesaktian atau ajian tapi
dikatakan sakti. Orang yang sakti adalah orang yang memiliki kelebihan
dibandingkan orang lain. Jaman dahulu
ilmu kesaktian atau ilmu kedigjayaan biasanya berupa ajian dimana ilmu
tersebut sangat bermanfaat seperti ilmu-ilmu pengetahuan dan ketrampilan saat
ini. Dahulu orang yang memiliki ilmu kedigjayaan dapat menggunakan ilmunya
untuk menolong orang lain, menjadi punggawa atau pegawai kerajaan atau pula
pekerjaan lain. Namun sampai sekarang masih banyak perguruan silat yang
mengajarkan ilmu kesaktian atau ajian-ajian tertentu yang mungkin menjadi
andalan bagi perguruan tersebut.
Baca juga : Hitam Putih
https://www.youtube.com/watch?v=ZjcNF99a31k&t=11s
Di PSHT tidak diajarkan ilmu-ilmu atau ajian-ajian yang
bersifat melawan kodrat, seperti ilmu terbang, ilmu menghilang, ilmu kebal dan
lain sebagainya. Di PSHT hanya diajarkan ilmu budi pekerti luhur agar para warganya
tahu benar dan salah. Namun tidak sedikit pula warga PSHT yang mempelajari
ilmu-ilmu tersebut di atas. Lantas bagaimana dapat digdaya karena tidak diajari
ilmu kesaktian atau ajian? Kenapa kita tidak memilih ilmu yang paling tinggi? Ilmu
untuk memohon kepada Tuhan yaitu do’a. Dengan mendekatkan diri kepada Tuhan
maka do’a kita akan mudah terkabulkan. Ingin apa saja kita berdo’a kepada
Tuhan.
Ilmu yang dipelajari di PSHT adalah ilmu budi pekerti luhur
sehingga yang diajarkan adalah ilmu pembentukan karakter akhlaqul karimah. Dengan
menanamkan perilaku yang baik laku suci dan keyakinan dalam menjalankan
agamanya maka diharapkan akan terhindar dari mara bahaya karena selalu dalam
perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Tapi mengapa masih ada oknum warga PSHT
melakukan hal yang tidak terpuji? Warga PSHT juga manusia yang tidak luput dari
salah dan dosa. Pendidikan akhlaq dan karakter di PSHT tidak hanya saat menjadi
siswa saja. Pendidikan akhlaq dan karakter tetap berjalan setelah menjadi warga
karena sejatinya mencari ilmu adalah kewajiban seumur hidup sampai ajal
menjemput. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan besok harus lebih
baik dari hari ini dengan begitu setiap hari harus ada peningkatan, harus ada
perbaikan perilaku dan karakter. Orang yang berilmu tinggi akan tampak pada
perilaku dan karakternya yang arif dan bijaksana, keagungan dan keluhuran budi
pekertinya. Semakin rendah hati dan menjaga lisannya. Bukan sebaliknya semakin
sok, angkuh, congkak dan sombong. Tidak timbul rasa ingin menunjukkan kepada
orang lain. Tidak timbul rasa ingin memamerkan ilmunya dihadapan orang lain.
Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf atas segala kekurangannya, terima
kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar