Selasa, 12 Januari 2021

DIGDAYA TANPA AJI

Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan,

Sewaktu saya masih menjadi siswa Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) kalimat itu sering terdengar saat menerima ke-SH-an. Digdaya tanpa aji atau yang menurut bahasa indonesia adalah “Sakti tanpa ajian” sering dilontarkan oleh beberapa warga senior dalam memberikan kerohanian atau ke –SH-an. Digdaya tanpa aji atau sakti tanpa ajian mengandung arti yang sangat luas. Memang tampak tidak lazim jika orang sakti tetapi tidak memiliki ajian atau ilmu kedigjayaan. Hal ini memang sangat membingungkan.

Banyak falsafah jawa yang serba bolak balik kata yang mengandung arti kebalikan, seperti, sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji dan lain sebagainya.

Digdaya atau digjaya atau pula sakti adalah orang yang memiliki ilmu kesaktian atau kedigjayaan atau sering disebut ajian. Namun bagaimana jika orang tidak memiliki ilmu kedikjayaan, ilmu kesaktian atau ajian tapi dikatakan sakti. Orang yang sakti adalah orang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang lain. Jaman dahulu  ilmu kesaktian atau ilmu kedigjayaan biasanya berupa ajian dimana ilmu tersebut sangat bermanfaat seperti ilmu-ilmu pengetahuan dan ketrampilan saat ini. Dahulu orang yang memiliki ilmu kedigjayaan dapat menggunakan ilmunya untuk menolong orang lain, menjadi punggawa atau pegawai kerajaan atau pula pekerjaan lain. Namun sampai sekarang masih banyak perguruan silat yang mengajarkan ilmu kesaktian atau ajian-ajian tertentu yang mungkin menjadi andalan bagi perguruan tersebut.

Baca juga : Hitam Putih

https://www.youtube.com/watch?v=ZjcNF99a31k&t=11s

Di PSHT tidak diajarkan ilmu-ilmu atau ajian-ajian yang bersifat melawan kodrat, seperti ilmu terbang, ilmu menghilang, ilmu kebal dan lain sebagainya. Di PSHT hanya diajarkan ilmu budi pekerti luhur agar para warganya tahu benar dan salah. Namun tidak sedikit pula warga PSHT yang mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Lantas bagaimana dapat digdaya karena tidak diajari ilmu kesaktian atau ajian? Kenapa kita tidak memilih ilmu yang paling tinggi? Ilmu untuk memohon kepada Tuhan yaitu do’a. Dengan mendekatkan diri kepada Tuhan maka do’a kita akan mudah terkabulkan. Ingin apa saja kita berdo’a kepada Tuhan.

Ilmu yang dipelajari di PSHT adalah ilmu budi pekerti luhur sehingga yang diajarkan adalah ilmu pembentukan karakter akhlaqul karimah. Dengan menanamkan perilaku yang baik laku suci dan keyakinan dalam menjalankan agamanya maka diharapkan akan terhindar dari mara bahaya karena selalu dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Tapi mengapa masih ada oknum warga PSHT melakukan hal yang tidak terpuji? Warga PSHT juga manusia yang tidak luput dari salah dan dosa. Pendidikan akhlaq dan karakter di PSHT tidak hanya saat menjadi siswa saja. Pendidikan akhlaq dan karakter tetap berjalan setelah menjadi warga karena sejatinya mencari ilmu adalah kewajiban seumur hidup sampai ajal menjemput. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan besok harus lebih baik dari hari ini dengan begitu setiap hari harus ada peningkatan, harus ada perbaikan perilaku dan karakter. Orang yang berilmu tinggi akan tampak pada perilaku dan karakternya yang arif dan bijaksana, keagungan dan keluhuran budi pekertinya. Semakin rendah hati dan menjaga lisannya. Bukan sebaliknya semakin sok, angkuh, congkak dan sombong. Tidak timbul rasa ingin menunjukkan kepada orang lain. Tidak timbul rasa ingin memamerkan ilmunya dihadapan orang lain. Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf atas segala kekurangannya, terima kasih.

Sumber : Alm. Mas Bambang Lukiarso Ranting Comal Cabang Pemalang, Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar