Sesuluh Qolbu
Oleh
: Puji Hermawan
Salam Persaudaraan
Para warga Persaudaraan Setia
Hati Terate (PSHT) tentu tIdak asing dengan judul di atas. Sugih tanpa bandha
adalah falsafah luhur bangsa khususnya suku Jawa. Kalau diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia adalah “Kaya tanpa harta benda”. Sepintas tampak aneh atau
mengada-ada, atau mungkin hanya sebagai penyejuk hati agar tidak iri dengan
orang yang kaya. Kaya tanpa harta benda, bagaimana mungkin orang kaya tanpa
harta benda. Secara umum orang disebut kaya jika memiliki banyak harta benda.
Jika kita menilai dari makna harfiah memang tampak aneh. Namun jika kita tinjau
dari makna falsafah dan dari segi kerohanian tidaklah aneh.
Pernahkah kita melihat seseorang
yang dari luar tampak kaya dengan kepemilikan harta, rumah, mobil, perusahaan
dan beberapa aset yang tampak secara umum.
Namun apakah kita tahu betul bahwa aset-aset tersebut mutlak menjadi
miliknya secara utuh?. Banyak orang yang tampak kaya tetapi asetnya semua tergadai
kepada bank. Banyak orang kaya yang nilai asetnya tidak sebanding dengan
hutangnya, hutangnya lebih besar dari asetnya. Itu jika ditinjau dari
kepemilikan harta benda.
Baca juga : Digdaya Tanpa Aji
https://www.youtube.com/watch?v=0P-lj43VAAY
Pernahkah pula kita mendengar
ada orang kaya yang tidak dapat menikmati kekayaannya karena harus bolak-balik
ke rumah sakit, setiap hari minum obat dan makan serba terbatas karena banyak
pantangan agar tidak kambuh penyakitnya? Karena itulah kesehatan sangat mahal
harganya. Pernahkah juga kita mendengar anak orang kaya yang tidak bahagia
karena sering ditinggal orang tuanya? Kedua
orang tuanya sibuk berbisnis, mencari uang dan beberapa
kegiatan-kegiatan di luar.
Lantas apa makna lain dari
falsafah di atas? Orang kaya yang sesungguhnya adalah orang yang tidak memiliki
hutang harta benda, orang yang senantiasa bersyukur atas pemberian Tuhan. Orang
yang dapat menggunakan uangnya untuk mencukupi kebutuhan hidup bukan keinginan
hidup. Kebutuhan dengan keinginan adalah hal yang sangat berbeda. Orang yang
kaya adalah orang yang cukup banyak waktu untuk keluarganya. Karena waktu untuk
keluara juga sangat berharga. Orang yang kaya adalah orang yang dapat
meluangkan waktunya untuk mendidik dan membina keluarga agar senantiasa
berjalan di jalan Allah. Karena momen seperti itu sangat berharga. Orang yang
kaya adalah orang yang merasa cukup. Banyak orang yang mempunyai penghasilan
besar tetapi selalu merasa kurang dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Tetapi tidak sedikit orang yang penghasilannya kecil tetapi merasa
cukup dan dapat menyisakan untuk menabung. Jadi orang kaya bukan ditentukan
dari seberapa besar penghasilan yang diterima setiap bulannya, tetapi seberapa
pintar menggunakan uangnya.
Dari segi agama orang yang kaya
adalah orang yang banyak membelanjakan hartanya di jalan Allah. Orang yang
membelanjakan hartanya untuk kehidupan yang lebih kekal. Yaitu alam keabadian
atau alam kelanggengan. Itulah makna dari falsafah di atas. Bagaimana pendapat
anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar