Senin, 11 Januari 2021

SUGIH TANPA BANDHA

 Sesuluh Qolbu

Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan

Para warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tentu tIdak asing dengan judul di atas. Sugih tanpa bandha adalah falsafah luhur bangsa khususnya suku Jawa. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah “Kaya tanpa harta benda”. Sepintas tampak aneh atau mengada-ada, atau mungkin hanya sebagai penyejuk hati agar tidak iri dengan orang yang kaya. Kaya tanpa harta benda, bagaimana mungkin orang kaya tanpa harta benda. Secara umum orang disebut kaya jika memiliki banyak harta benda. Jika kita menilai dari makna harfiah memang tampak aneh. Namun jika kita tinjau dari makna falsafah dan dari segi kerohanian tidaklah aneh.

Pernahkah kita melihat seseorang yang dari luar tampak kaya dengan kepemilikan harta, rumah, mobil, perusahaan dan beberapa aset yang tampak secara umum.  Namun apakah kita tahu betul bahwa aset-aset tersebut mutlak menjadi miliknya secara utuh?. Banyak orang yang tampak kaya tetapi asetnya semua tergadai kepada bank. Banyak orang kaya yang nilai asetnya tidak sebanding dengan hutangnya, hutangnya lebih besar dari asetnya. Itu jika ditinjau dari kepemilikan harta benda.

Baca juga : Digdaya Tanpa Aji

https://www.youtube.com/watch?v=0P-lj43VAAY

Pernahkah pula kita mendengar ada orang kaya yang tidak dapat menikmati kekayaannya karena harus bolak-balik ke rumah sakit, setiap hari minum obat dan makan serba terbatas karena banyak pantangan agar tidak kambuh penyakitnya? Karena itulah kesehatan sangat mahal harganya. Pernahkah juga kita mendengar anak orang kaya yang tidak bahagia karena sering ditinggal orang tuanya? Kedua  orang tuanya sibuk berbisnis, mencari uang dan beberapa kegiatan-kegiatan di luar.

Lantas apa makna lain dari falsafah di atas? Orang kaya yang sesungguhnya adalah orang yang tidak memiliki hutang harta benda, orang yang senantiasa bersyukur atas pemberian Tuhan. Orang yang dapat menggunakan uangnya untuk mencukupi kebutuhan hidup bukan keinginan hidup. Kebutuhan dengan keinginan adalah hal yang sangat berbeda. Orang yang kaya adalah orang yang cukup banyak waktu untuk keluarganya. Karena waktu untuk keluara juga sangat berharga. Orang yang kaya adalah orang yang dapat meluangkan waktunya untuk mendidik dan membina keluarga agar senantiasa berjalan di jalan Allah. Karena momen seperti itu sangat berharga. Orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup. Banyak orang yang mempunyai penghasilan besar tetapi selalu merasa kurang dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi tidak sedikit orang yang penghasilannya kecil tetapi merasa cukup dan dapat menyisakan untuk menabung. Jadi orang kaya bukan ditentukan dari seberapa besar penghasilan yang diterima setiap bulannya, tetapi seberapa pintar menggunakan uangnya.

Dari segi agama orang yang kaya adalah orang yang banyak membelanjakan hartanya di jalan Allah. Orang yang membelanjakan hartanya untuk kehidupan yang lebih kekal. Yaitu alam keabadian atau alam kelanggengan. Itulah makna dari falsafah di atas. Bagaimana pendapat anda?

Sumber: Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar