Oleh : Puji Hermawan
Salam Persaudaraan
Dalam ajaran PSHT jaman saya siswa dulu dikenal tiga
tingkatan keilmuan. Ketiga tingkatan itu memiliki sifat dan ciri-ciri yang
berbeda. Ketiga tingkatan itu akan dilalui secara berurutan tidak dapat acak.
Tingkatan pertama adalah Sekti atau sakti yaitu gambaran
dari Warga tingkat satu atau trap satu. Pada tingkatan ini ambisi untuk mencari
ilmu sangat tinggi. Sering berguru ke sana kemari baik dari warga PSHT maupun
dari luar. Hal ini wajar maka dari itu perlu pondasi dan proteksi diri yang
cukup agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Kadang muncul sifat Adigang
adigung adiguna jika tidak dapat mengontrol. Hal ini merupakan ujian dari
tingkatan sekti. Tidak ada yang ditakutinya siapa saja yang menghalangi
keinginannya akan dilawan. Ingat untuk menghadapi tingkatan ini jangan dihadapi
dengan otot. Sura Dira Jaya Ningrat Lebur Dening Pangastuti lawanlah dengan
kesabaran dan kelembutan. Maka dari itu PSHT tidak memberikan senjata yang
keras melainkan yang lembut yaitu mori.
Baca juga : Kewibawaan
Tingkatan yang kedua adalah Ngerti atau Waskita yaitu
tingkat mengerti. Tingkatan ini adalah gambaran Warga tingkat dua atau trap
dua. Pada tingkatan ini ambisi untuk mencari ilmu kesaktian sudah berkurang.
Ilmu untuk membimbing dan ngemong sangat dominan. Maka dari itu menjadi warga
trap dua adalah mutlak harus bisa menjadi contoh yang baik pada warga tingkat
satu. Konsekuensi orang yang sudah mencapai tataran atau tingkatan ini adalah
menahan diri dari menggunjing. Karena pada tingkatan ini akan dibuka ilmunya
untuk melihat kelemahan-kelemahan orang lain bahkan aib orang lain. Ujian pada
tingkatan ini adalah menggunjingkan kejelekan orang lain.
Yang terakhir adalah tingkat tiga yaitu Sabar lan Narima.
Pada tingkatan ini sudah tidak tertarik dengan keilmuan yang bersifat duniawi.
Ini adalah gambaran Warga tingkat tiga atau trap tiga. Pada tingkatan ini
biasanya sudah merasa cukup dengan duniawi. Lantas apakah pada tingkatan ini
sudah tidak ada ujiannya? tetap ada. Selama Hayat Masih Dikandung Badan selama
jiwa belum terpisah dengan raga selama itu pula nafsu belum lepas. Maka cobaan
pada tingkatan ini adalah nama besar. Apakah kebesaran nama akan menjadikannya
lupa atau tidak. Itulah ambisi pada tingkatan ini yaitu nama besar.
Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika
ada yang salah. Mohon maaf bukan maksud hati menyinggung
kadang sepuh karena itu hanya lintasan perenungan saja. Terima kasih.