Rabu, 27 Januari 2021

YEN WANI AJA WEDI-WEDI YEN WEDI AJA WANI-WANI

Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan,

Jika berani jangan takut-takut jika takut jangan berani-berani. Begitulah kurang lebih arti judul di atas. Lantas apa makna yang sebenarnya dari ungkapan di atas?.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang harus diputuskan. Dimana dalam pengambilan keputusan hanya ada dua pilihan yaitu ya atau tidak. Jika salah dalam mengambil keputusan dapat berakibat fatal. Suatu misal jika kita ditantang bertarung dengan orang lain tentu kita akan mempertimbangkan antara ya dan tidak. Jika lawan yang menantang memiliki kemampuan yang seimbang dengan kita tentu kita tidak banyak berpikir untuk menerima tantangannya. Namun jika lawannya jauh melebihi kemampuan kita maka perlu pertimbangan yang matang.

Yen wani aja wedi-wedi mengandung arti jika kita berani ya tidak usah takut. Kita harus mantap dalam mengambil keputusan jangan ragu-ragu. Yen wedi aja wani-wani mengandung arti kalau kita takut ya jangan main-main jangan iseng dalam mengambil keputusan. Makna ungkapan seperti judul di atas bukan hanya dalam urusan pertarungan saja. Dalam berbagai pekerjaan juga sering kita dihadapkan dengan permasalahan yang serupa. Sebagai contoh jika kita ditawari pekerjaan atau proyek dengan nilai tinggi maka kita harus berpikir yang matang. Jika diterima kita sanggup atau tidak dalam mengerjakannya karena akan ada konsekwensi setelah kita mengambil keputusan. Jika proyek yang ditawarkan masih dalam batas kemampuan kita maka kita harus segera ambil keputusan untuk menerima agar tidak kehilangan kesempatan. Namun jika proyek yang ditawarkan jauh melebihi kemampuan dan kapasitas kita, jangan main-main dan berspekulasi dalam menerima proyek. Hal ini akan berakibat fatal.

Baca juga : Aja Wedinan

https://youtu.be/ZF0DXB5-LX0


Maka dari itu kita harus memiliki kemampuan dan kecakapan dalam menilai kapasitas diri kita. Orang yang memiliki kecakapan dalam menilai diri sendiri tidak akan mengunggulkan diri dengan omong besar. Keyakinan dalam melangkah akan dimiliki oleh orang yang mampu mengukur kemampuan diri. Kesederhanaan dalam berucap dan bersikap juga akan melekat pada diri orang yang mampu introspeksi diri. Kemantapan dalam mengambil keputusan dan tidak ragu-ragu adalah cerminan orang yang memiliki kecakapan. Tinggalkan keraguan dan tetap semangat dalam melangkah. Demikian yang dapat saya sampaikan dan terima kasih telah menyempatkan membaca.

Selasa, 26 Januari 2021

AJA WEDINAN

Oleh : Puji Hermawan


 Salam Persaudaraan,

Aja wedinan yang artinya jangan penakut adalah falsafah yang sering didengar hampir semua orang dari suku dan bangsa manapun. Sejak kecil kita selalu dididik oleh orang tua untuk tidak menjadi anak yang penakut. Apapun profesi orang tua kita, bagaimanapun keadaan orang tua kita mereka selalu menginginkan agar anaknya tidak penakut. Karena rasa takut dapat membelenggu diri kita dan berakibat menghambat kemajuan kita.

Baca juga : Aja Kagetan

Rasa takut sering menghinggapi perasaan kita. Kadang-kadang rasa takut itu sering tidak beralasan. Seperti halnya takut air, takut ketinggian, takut kegelapan dan masih banyak lagi. Untuk menghilangkan rasa takut sejak kecil harus dibiasakan dan dilatih untuk mendekati hal-hal yang menjadikannya takut. Sebagai contoh jika anak takut pada air maka harus sering dilatih untuk mendekati air. Kenapa rasa takut itu muncul? Rasa takut itu muncul karena bayangan yang mengerikan terhadap objek yang ditakuti. Misalnya takut tenggelam, takut sakit, takut mati dan lain sebagainya.

Secara garis besar rasa takut itu adalah, takut mati, takut sakit dan takut malu. Seseorang yang tidak memiliki keyakinan kuat sering dihinggapi rasa takut mati. Padahal kematian itu pasti. Setiap yang bernafas pasti akan mati, dan kematian itu selalu datang tiba-tiba. Tidak ada seorangpun yang tahu pasti kapan kematian akan datang. Orang yang takut mati beralasan belum siap karena masih belum cukup bekal. Jika sadar belum cukup bekal kenapa masih sering melakukan dosa dan maksiat? Harusnya jika perasaan takut mati itu masih hinggap pada diri seseorang maka harus meningkatkan amal kebajikan.

Rasa takut berikutnya adalah takut sakit. Sakit adalah rasa yang disebabkan oleh suatu sebab. Sakit dapat ditimbulkan dari akibat kecelakaan atau kesalahan dari diri sendiri atau orang lain. Sakit yang timbul akibat diri sendiri yang gagal melakukan sesuatu akibat kurang kompeten atau kurang cakap dalam melakukannya. Kecelakaan atau gagal dalam melakukan sesuatu juga dapat disebabkan karena faktor lain seperti faktor lingkungan. Maka dari itu berpikirlah sebelum bertindak. Berbuatlah sesuai dengan kemampuan. Tingkatkan kemampuan dengan cara berlatih.

https://youtu.be/8aiMMTnzoWU

Rasa takut berikutnya adalah takut malu. Takut malu biasanya timbul karena takut salah. Jika kita berpihak pada kebenaran maka hendaknya tidak perlu takut. Takut salah dalam melakukan sesuatu. Kita harus berpikir sebab akibat. Jika kesalahan yang dapat ditimbulkan berakibat fatal kita perlu pemikiran lebih jauh. Namun jika kesalahan tidak berakibat fatal maka kita tidak perlu takut karena kita dapat belajar dari kesalahan. Demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan.

Selasa, 19 Januari 2021

AJA KAGETAN

 

Oleh : Puji Hermawan


 

Salam Persaudaraan,

Aja kagetan dalam bahasa jawa yang artinya jangan suka terkejut atau mudah terkejut mempunyai makna hampir mirip dengan aja gumunan atau jangan mudah takjub. Orang yang kagetan atau mudah terkejut tidak mudah menguasai diri atau mengendalikan diri. Orang yang terkejut sering tidak dapat mengendalikan diri. Sebagai contoh orang yang mengendarai kendaraan terkejut saat mendengar suara klakson dari kendaraan lain yang lebih besar secara mendadak maka akan dapat mengakibatkan kecelakaan. Itu gambaran mudah tentang terkejut.

Baca juga : Aja Gumunan

Terkejut yang akan dibahas di sini bukanlah terkejut seperti yang disebutkan di atas. Terkejut di sini lebih menekankan pada terkejut jika mendengar atau mengetahui suatu informasi yang tidak diinginkan. Mendengar informasi yang tidak diinginkan kadang-kadang dapat menimbulkan rasa terkejut atau kaget. Bahkan dapat menimbulkan hilangnya kesadaran. Kondisi seperti inilah kadang-kadang dimanfaatkan oleh lawan untuk menyerang mental musuhnya walaupun isi informasinya adalah bohong belaka. Cara-cara seperti ini sering disebut juga dengan perang opini. Dahulu para pendekar sebelum melakukan pertarungan secara fisik mereka mengadakan perang urat syaraf atau perang mental. Mereka saling menyerang dengan kata-kata hinaan, ejekan atau sindiran untuk menyerang satu sama lain.

Lain dulu lain sekarang. Jaman sekarang pemilihan calon pemimpin diselenggarakan debat antar calon dengan tujuan adu visi dan misi. Berbagai aturan dibuat agar tidak melebar dari tema dan mengedepankan etika dalam menyampaikan pendapat. Namun pada kenyataannya banyak peserta debat yang lepas kontrol dan melebar dari tema dengan tujuan menjatuhkan lawannya.

https://www.youtube.com/watch?v=w0JLjt3kOUQ

Orang yang sudah dapat mengendalikan diri karena tidak kagetan akan tampil lebih tenang. Orang yang tidak kagetan dapat berfikir lebih tenang pula. Dengan berpikir tenang maka lebih mudah membaca taktik yang akan digunakan oleh lawan. Dengan demikian memenangkan pertarungan akan lebih mudah.

Jika kita dapat menguasai diri karena tidak kagetan maka kita tidak mempan gertakan. Lawanpun akan memeras otak agar mental kita jatuh. Berbagai metode dari gertakan, tipuan sampai fitnah pun kadang dilakukan demi menjatuhkan mental lawan. Akhirnya lawan kehabisan tenaga karena letih. Demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf jika ada kekeliruan. Terima kasih.

Senin, 18 Januari 2021

AJA GUMUNAN

 Oleh : Puji Hermawan


 

Salam Persaudaraan,

Aja gumunan yang dalam bahasa Indonesia adalah jangan mudah heran atau takjub jika melihat, mendengar atau mengetahui sesuatu yang baru. Orang yang mudah takjub akan mudah lepas kesadaran diri atau alam bawah sadarnya sehingga mudah dipengaruhi oleh orang lain. Mudah dimasuki pengaruh buruk sehingga orang tersebut dalam kendali orang lain seperti gendam atau hipnotis. Hal ini dapat terjadi jika kurang keyakinan pada diri sendiri. Seseorang merasa kurang yakin pada diri sendiri karena kurangnya motivasi.

Seorang warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada dasarnya adalah motivator bagi para siswa. Untuk itu seorang warga PSHT haruslah senantiasa belajar menambah pengetahuan dan menambah pengalaman agar dapat memotivasi siswa dengan baik. Orang yang banyak pengalaman dan pengetahuan tidak akan mudah heran dan takjub jika melihat sesuatu yang baru dilihat. Banyak sekali sumber-sumber pengetahuan untuk belajar. Membaca, mendengar dan melihat merupakan usaha untuk menambah pengetahuan. Sering bertanya dan berkonsultasi dengan warga senior juga dapat menambah pengetahuan. Mengapa orang yang banyak pengalaman dan pengetahuan tidak mudah takjub? Hal ini disebabkan karena mungkin hal yang baru dilihatnya pernah diperoleh informasi dari membaca atau mendengar pengalaman orang lain. Sehingga tidak heran dengan sesuatu yang baru dilihatnya.

Baca juga : Aja Dumeh

https://youtu.be/bBDmPaooM3M

Orang yang mudah takjub menunjukkan kurangnya pengetahuan dan pengalaman. Selain itu juga menunjukkan kurang dapat menguasai diri sehingga dirinya mudah dikuasai orang lain. Orang yang mudah heran biasanya juga mudah emosi dan mudah tersinggung. Maka dari itu seorang warga PSHT janganlah mudah takjub jika melihat orang yang memiliki ilmu-ilmu tertentu yang biasa dipertunjukkan untuk pertunjukan. Warga PSHT harus mempunyai prinsip jika orang lain bisa melakukan, saya pun bisa jika mau belajar. Aja gumunan jika melihat orang lain menunjukkan ilmunya. Harusnya merasa iri dengan orang yang memiliki sifat dan karakter lebih baik dari diri kita. Ilmu-ilmu untuk pertunjukan hanyalah sekedar untuk hiburan atau selingan. Yang paling utama adalah ilmu untuk bekal perjalanan menuju ke hadirat Illahi. Ilmu yang paling utama adalah ilmu untuk mempersiapkan pertemuan kita dengan Sang Pencipta.

Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika ada yang salah. Terima kasih. 

Jumat, 15 Januari 2021

AJA DUMEH

Oleh : Puji Hermawan


 

Salam Persaudaraan,

Aja dumeh dalam falsafah jawa yang berarti jangan mentang-mentang merupakan pitutur luhur bangsa indonesia khususnya suku jawa. Jangan mentang-mentang mengandung arti yang luas. Jangan mentang-mentang berkuasa, jangan mentang-mentang kaya jangan mentang-mentang menjadi anak pejabat dan lain-lain. Aji mumpung bisa menjadi hal yang negatif jika disalahgunakan. Namun demikian tidak semua aji mumpung merupakan hal yang tidak baik. Aji mumpung merupakan memanfaatkan keadaan atau situasi. Jika bertujuan baik dan dilakukan dengan cara yang baik juga tidak menjadi masalah. Sebagai contoh, seseorang yang sedang naik daun atau sedang populer, dengan popularitasnya yang tinggi  tertarik mengikuti pemilihan kepala daera atau pemilihan anggota legislatif. Jika kepopulerannya diraih dengan cara yang baik dan dikenal dengan segala kebaikannya adalah wajar jika memanfaatkan situasi dan kepopulerannya untuk maju dalam pilkada atau pileg. Yang terpenting adalah dalam mendapatkan popularitas dan simpati masyarakat melalui cara yang baik pula.

Dumeh atau mentang-mentang sering dialami oleh orang yang baru mendapatkan kenikmatan duniawi, baik itu kekuasaan, kekayaan atau jabatan. Rasa ini kadang-kadang muncul pada warga Persaudaraan Setia Hatin Terate (PSHT) terutama warga baru. Tetapi tidak jarang warga senior yang merasa sebagai senior muncul rasa dumeh tersebut. Mentang-mentang senior kadang dengan yunior sewenang-wenang. Merasa haus kehormatan dan penghargaan. Tersinggung jika diingatkan, merasa paling benar. Kadang banyak warga PSHT yang pandai memberikan pengarahan tetapi dirinya sendiri jauh dari watak tersebut.

Baca juga : Pendekar Pilih Tanding

https://youtu.be/oTdnYKaYQ6s

Rasa dumeh ini biasanya muncul pada diri seseorang jika berhadapan dengan orang yang berada di bawahnya. Orang kaya akan muncul rasa dumeh ini jika berhadapan dengan orang yang miskin. Orang yang punya kekuasaan juga akan muncul rasa dumehnya jika berhadapan dengan bawahannya. Demikian juga seorang warga PSHT akan muncul rasa tersebut jika di depan siswa atau di depan warga yunior. Rasa dumeh ini dekat sekali dengan kesombongan. Di mana rasa sombong akan menghancurkan orang yang memilikinya. Maka dari itu sebagai warga PSHT harus betul-betul menghindari rasa dumeh agar tidak menjadi sombong. Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf atas segala kekurangan. Terima kasih. 

Kamis, 14 Januari 2021

PENDEKAR PILIH TANDING

 Oleh : Puji Hermawan


 

Salam Persaudaraan,

Bertanding dalam dunia persilatan adalah hal yang biasa terjadi. Seorang kesatria tidak akan mengelak jika ditantang untuk berkelahi. Namun demikian seorang pendekar atau kesatria hendaklah memilih lawan yang sebanding. Jika ditantang oleh lawan yang tidak sebanding hendaknya tidak menerima tantangannya itu. Jika lawan yang menantangnya memiliki kelas jauh di bawah kemenangan tidak akan menjadikan derajatnya meningkat justru akan menjatuhkan martabatnya apa lagi jika kalah. Jika yang menantangnya memiliki kemampuan jauh di atasnya itupun akan membahayakan nyawanya. Jangan takut harga dirinya jatuh jika menolak tantangan dari lawan yang tidak sebanding. Justru dengan menerima tantangan tanpa memilih lawan yang sebanding akan tampak kurang berwibawa.

Baca juga : Menang Tanpa Ngasorake

https://www.youtube.com/watch?v=couGJc0lI4s&t=8s

Jika posisinya sebagai penantang juga harus pilih-pilih lawan yang sebanding. Jika lawan yang dipilih memiliki kemampuan jauh di bawahnya maka kejadiannya juga sama tidak akan menaikkan derajatnya. Menantang orang yang memiliki kemampuan jauh di bawahnya justru akan menjatuhkan wibawanya. Orang lain akan menganggap sewenang-wenang dan menindas orang kecil. Menantang orang yang memiliki keunggulan jauh di atasnya juga tidak layak dilakukan, selain akan mendapat cemooh dari orang lain juga akan menjatuhkan martabatnya sendiri. Selain itu juga dianggap sebagai orang yang tidak dapat berkaca pada diri sendiri, orang yang tidak tahu diri. Bisa juga dianggap kurang ajar atau kurang tata krama.

Itulah sebabnya seorang pendekar haruslah pandai dalam memilih lawan. Tidak asal ada musuh dilawan semua tanpa berpikir akibatnya. Tidak asal menerima tantangan karena akan mempertaruhkan kewibawaannya. Seorang pendekar yang pilih tanding akan sangat diperhitungkan oleh lawan-lawannya. Maka dari itu hendaklah warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) menjadi pendekar yang pilih tanding. Tidak mudah marah, tidak mudah tersulut emosi. Warga PSHT haruslah mampu menilai baik buruknya suatu permasalahan. Mampu berfikir efek dan akibat dari perbuatannya. Sehingga tidak menjadikan keresahan bagi lingkungan. Dengan menjadi pendekar pilih tanding diharapkan dapat menjaga kewibawaan pribadi dan organisasi. Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika ada yang salah. Terima kasih.

Sumber : Alm. Mas Bambang Lukiarso dan Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang.

Rabu, 13 Januari 2021

MENANG TANPA NGASORAKE

 Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan,

Dalam dunia persilatan memenangkan pertarungan adalah dambaan para pendekar. Tidak sedikit peristiwa kemenangan dalam pertarungan menyisakan permasalahan. Dendam sering menjadikan efek samping dalam sebuah pertarungan. Mengapa dendam selalu muncul dalam setiap pertarungan? Hal ini dapat dicegah jika para petarung menggunakan taktik “Menang tanpa ngasorake”.

Menang tanpa ngasorake adalah falsafah bijak yang sering diajarkan di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Namun demikian tidak sedikit warga PSHT yang belum memahami hal ini. Menang tanpa ngasorake dalam bahasa Indonesia adalah menang tanpa merendahkan. Jika semua warga PSHT memahami dan mengamalkan falsafah ini tidak akan terjadi dendam pasca pertandingan atau pertarungan. Menang tanpa ngasorake harus dipahami oleh semua pihak. Baik sporter maupun para petarungnya. Pihak yang menang tidak perlu over acting karena memenangkan sebuah pertarungan. Pihak yang kalah pun haruslah menerimanya dengan lapang dada. Karena dalam sebuah pertarungan hanya ada dua kemungkinan yaitu kalah atau menang. Para petarung haruslah menghargai lawan dan tetap sportif dalam memenangkan pertandingan. Pihak yang menang haruslah menghargai pihak yang kalah dengan tetap mengedepankan rasa peri kemanusiaan dan menjaga perasaan pihak yang kalah.

Baca juga : Digdaya Tanpa Aji

https://www.youtube.com/watch?v=gPGPEJh57C8&t=44s

Selain dalam pertarungan, falsafah ini juga berlaku bagi pihak-pihak yang saling berselisih. Pertarungan non fisik bisa saja terjadi kepada siapapun. Jika kedua belah pihak memiliki jiwa kesatria yang besar tentu akan dapat menjaga perasaan masing-masing. Perlakuan arif dan bijaksana terhadap lawan mencerminkan pribadi yang luhur, menunjukkan keagungan budi pekerti. Hal ini juga dapat menjadi parameter tinggi rendahnya ilmu seseorang. Orang yang kalah dalam pertarungan melawan orang yang arif dan bijaksana, memiliki karakter bagus dan mempunyai ilmu sangat tinggi dapat menerimanya dengan lapang dada. Hal ini disebabkan perlakuan pihak yang menang tidak sewenang-wenang.

Lantas apakah ada orang yang seperti itu? Tentu saja ada jika orang tersebut memiliki akhlaq yang mulia. Hal inilah yang sebenarnya ditanamkan secara terus menerus di PSHT dari siswa hingga menjadi warga. Saling menghamat-hamati menjadi kunci utama keberhasilan dalam menjaga ajaran PSHT. Demikian yang dapat saya sampaikan dan semoga para warga PSHT tetap menjaga ajaran ini untuk tetap memayu hayuning bawana. Terima kasih.

Sumber : Alm. Mas Bambang Lukiarso dan Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang.

Selasa, 12 Januari 2021

DIGDAYA TANPA AJI

Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan,

Sewaktu saya masih menjadi siswa Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) kalimat itu sering terdengar saat menerima ke-SH-an. Digdaya tanpa aji atau yang menurut bahasa indonesia adalah “Sakti tanpa ajian” sering dilontarkan oleh beberapa warga senior dalam memberikan kerohanian atau ke –SH-an. Digdaya tanpa aji atau sakti tanpa ajian mengandung arti yang sangat luas. Memang tampak tidak lazim jika orang sakti tetapi tidak memiliki ajian atau ilmu kedigjayaan. Hal ini memang sangat membingungkan.

Banyak falsafah jawa yang serba bolak balik kata yang mengandung arti kebalikan, seperti, sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji dan lain sebagainya.

Digdaya atau digjaya atau pula sakti adalah orang yang memiliki ilmu kesaktian atau kedigjayaan atau sering disebut ajian. Namun bagaimana jika orang tidak memiliki ilmu kedikjayaan, ilmu kesaktian atau ajian tapi dikatakan sakti. Orang yang sakti adalah orang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang lain. Jaman dahulu  ilmu kesaktian atau ilmu kedigjayaan biasanya berupa ajian dimana ilmu tersebut sangat bermanfaat seperti ilmu-ilmu pengetahuan dan ketrampilan saat ini. Dahulu orang yang memiliki ilmu kedigjayaan dapat menggunakan ilmunya untuk menolong orang lain, menjadi punggawa atau pegawai kerajaan atau pula pekerjaan lain. Namun sampai sekarang masih banyak perguruan silat yang mengajarkan ilmu kesaktian atau ajian-ajian tertentu yang mungkin menjadi andalan bagi perguruan tersebut.

Baca juga : Hitam Putih

https://www.youtube.com/watch?v=ZjcNF99a31k&t=11s

Di PSHT tidak diajarkan ilmu-ilmu atau ajian-ajian yang bersifat melawan kodrat, seperti ilmu terbang, ilmu menghilang, ilmu kebal dan lain sebagainya. Di PSHT hanya diajarkan ilmu budi pekerti luhur agar para warganya tahu benar dan salah. Namun tidak sedikit pula warga PSHT yang mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Lantas bagaimana dapat digdaya karena tidak diajari ilmu kesaktian atau ajian? Kenapa kita tidak memilih ilmu yang paling tinggi? Ilmu untuk memohon kepada Tuhan yaitu do’a. Dengan mendekatkan diri kepada Tuhan maka do’a kita akan mudah terkabulkan. Ingin apa saja kita berdo’a kepada Tuhan.

Ilmu yang dipelajari di PSHT adalah ilmu budi pekerti luhur sehingga yang diajarkan adalah ilmu pembentukan karakter akhlaqul karimah. Dengan menanamkan perilaku yang baik laku suci dan keyakinan dalam menjalankan agamanya maka diharapkan akan terhindar dari mara bahaya karena selalu dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Tapi mengapa masih ada oknum warga PSHT melakukan hal yang tidak terpuji? Warga PSHT juga manusia yang tidak luput dari salah dan dosa. Pendidikan akhlaq dan karakter di PSHT tidak hanya saat menjadi siswa saja. Pendidikan akhlaq dan karakter tetap berjalan setelah menjadi warga karena sejatinya mencari ilmu adalah kewajiban seumur hidup sampai ajal menjemput. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan besok harus lebih baik dari hari ini dengan begitu setiap hari harus ada peningkatan, harus ada perbaikan perilaku dan karakter. Orang yang berilmu tinggi akan tampak pada perilaku dan karakternya yang arif dan bijaksana, keagungan dan keluhuran budi pekertinya. Semakin rendah hati dan menjaga lisannya. Bukan sebaliknya semakin sok, angkuh, congkak dan sombong. Tidak timbul rasa ingin menunjukkan kepada orang lain. Tidak timbul rasa ingin memamerkan ilmunya dihadapan orang lain. Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf atas segala kekurangannya, terima kasih.

Sumber : Alm. Mas Bambang Lukiarso Ranting Comal Cabang Pemalang, Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang.

Senin, 11 Januari 2021

SUGIH TANPA BANDHA

 Sesuluh Qolbu

Oleh : Puji Hermawan


Salam Persaudaraan

Para warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tentu tIdak asing dengan judul di atas. Sugih tanpa bandha adalah falsafah luhur bangsa khususnya suku Jawa. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah “Kaya tanpa harta benda”. Sepintas tampak aneh atau mengada-ada, atau mungkin hanya sebagai penyejuk hati agar tidak iri dengan orang yang kaya. Kaya tanpa harta benda, bagaimana mungkin orang kaya tanpa harta benda. Secara umum orang disebut kaya jika memiliki banyak harta benda. Jika kita menilai dari makna harfiah memang tampak aneh. Namun jika kita tinjau dari makna falsafah dan dari segi kerohanian tidaklah aneh.

Pernahkah kita melihat seseorang yang dari luar tampak kaya dengan kepemilikan harta, rumah, mobil, perusahaan dan beberapa aset yang tampak secara umum.  Namun apakah kita tahu betul bahwa aset-aset tersebut mutlak menjadi miliknya secara utuh?. Banyak orang yang tampak kaya tetapi asetnya semua tergadai kepada bank. Banyak orang kaya yang nilai asetnya tidak sebanding dengan hutangnya, hutangnya lebih besar dari asetnya. Itu jika ditinjau dari kepemilikan harta benda.

Baca juga : Digdaya Tanpa Aji

https://www.youtube.com/watch?v=0P-lj43VAAY

Pernahkah pula kita mendengar ada orang kaya yang tidak dapat menikmati kekayaannya karena harus bolak-balik ke rumah sakit, setiap hari minum obat dan makan serba terbatas karena banyak pantangan agar tidak kambuh penyakitnya? Karena itulah kesehatan sangat mahal harganya. Pernahkah juga kita mendengar anak orang kaya yang tidak bahagia karena sering ditinggal orang tuanya? Kedua  orang tuanya sibuk berbisnis, mencari uang dan beberapa kegiatan-kegiatan di luar.

Lantas apa makna lain dari falsafah di atas? Orang kaya yang sesungguhnya adalah orang yang tidak memiliki hutang harta benda, orang yang senantiasa bersyukur atas pemberian Tuhan. Orang yang dapat menggunakan uangnya untuk mencukupi kebutuhan hidup bukan keinginan hidup. Kebutuhan dengan keinginan adalah hal yang sangat berbeda. Orang yang kaya adalah orang yang cukup banyak waktu untuk keluarganya. Karena waktu untuk keluara juga sangat berharga. Orang yang kaya adalah orang yang dapat meluangkan waktunya untuk mendidik dan membina keluarga agar senantiasa berjalan di jalan Allah. Karena momen seperti itu sangat berharga. Orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup. Banyak orang yang mempunyai penghasilan besar tetapi selalu merasa kurang dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi tidak sedikit orang yang penghasilannya kecil tetapi merasa cukup dan dapat menyisakan untuk menabung. Jadi orang kaya bukan ditentukan dari seberapa besar penghasilan yang diterima setiap bulannya, tetapi seberapa pintar menggunakan uangnya.

Dari segi agama orang yang kaya adalah orang yang banyak membelanjakan hartanya di jalan Allah. Orang yang membelanjakan hartanya untuk kehidupan yang lebih kekal. Yaitu alam keabadian atau alam kelanggengan. Itulah makna dari falsafah di atas. Bagaimana pendapat anda?

Sumber: Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang

Jumat, 08 Januari 2021

SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

 Oleh : Puji Hermawan

  

Salam Persaudaraan

Judul di atas tidak asing lagi bagi warga PSHT. Banyak tulisan di medsos mengenai falsafah ini dan kebanyakan penulis adalah warga PSHT. Adapun arti dari Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti adalah kejahatan angkara murka akan kalah dengan kelembutan, kasih sayang dan kebenaran. Hampir semua warga PSHT paham artinya.

Lantas jika sudah paham dengan sesanti atau semboyan di atas apakah sudah benar-benar menjalankannya? kalau memang iya kenapa masih sering terjadi kekerasan yang dilakukan oleh beberapa oknum warga? Falsafah bukan sekedar teori namun juga harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sura Dira bukan sekedar kejahatan dan keangkaramurkaan saja. Kesombongan, tinggi hati dan takabur juga termasuk dalam katagorinya. Banyak diantara kita yang masih menyombongkan diri atas apa yang kita miliki. Banyak diantara kita merasa bangga diri setelah disahkan menjadi warga. Hal ini adalah wajar setiap warga baru akan mengalami hal ini. Rasa ingin menunjukkan kewargaannya kepada orang lain. Maka dari itu warga senior haruslah tetap membimbing agar yuniornya tidak lepas kontrol dan lupa diri setelah menjadi warga. Selain itu juga untuk mempererat persaudaraan antara senior dan yunior.

Baca juga : Sugih Tanpa Bandha

https://www.youtube.com/watch?v=bBDmPaooM3M&t=5s

Perlu kita ketahui tinggi rendahnya ilmu seseorang bukan terletak pada seberapa banyak kitab yang telah dibaca, seberapa banyak guru yang dimiliki tetapi terletak pada perubahan karakter menjadi lebih baik. Apa artinya kita banyak membaca kitab tetapi tidak dapat mencerna dan menyerap ilmu yang telah kita pelajari. Seberapapun banyak guru yang kita miliki jika tidak membawa perubahan karakter menjadi lebih baik maka percuma saja.

Warga juga manusia yang tak luput dari salah dosa. untuk itu harus saling menghamat-hamati, saling mengingatkan agar sama-sama membawa perubahan, perubahan menuju kebaikan. Mari lembutkan hati kita untuk dapat menerima nasihat. Itulah hijrah yang sesungguhnya. Hari ini harus lebih baik dari kemarin.

Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika ada salah. Terima kasih.

Sumber :

Kang Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang,

Kang Mas Alm. Bambang Lukiarso Ranting Comal Cabang Pemalang

Kang Mas Alm. Lukman Prabowo Ranting Comal Cabang Pemalang

Kang Mas Alm. Pujiantoro Solo

Rabu, 06 Januari 2021

BERBILANG DARI ESA MENGAJI DARI ALIF

 Oleh : Puji Hermawan

 


Salam Persaudaraan

Peribahasa mengatakan Berbilang dari Esa Mengaji dari Alif yang artinya mengerjakan sesuatu hendaknya dari permulaan. Apa hubungannya dengan ajaran PSHT? Menurut saya PSHT adalah organisasi yang dinamis akan tetapi tidak meninggalkan sejarah. Maksudnya PSHT adalah organisasi yang berkembang dan tidak menutup diri dari hal-hal yang positif. Banyak ajaran yang bukan berasal dari PSHT tetapi diugemi karena mengajarkan kebaikan.

Kembali pada judul di atas. Dalam memulai sesuatu bukan hanya pekerjaan tetapi juga mencari ilmu atau mengaji hendaknya dari awal. Apa jadinya jika mencari ilmu tidak dari permulaan? Mungkin akan terjadi kekacauan entah dari mental pribadi yang mencari ilmu atau mungkin penerapannya dalam kehidupan.

Baca juga : SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

https://www.youtube.com/watch?v=bBDmPaooM3M&t=5s

Ada seseorang yang membanggakan gurunya karena memiliki ilmu yang sangat tinggi. Hal ini adalah wajar karena mengagumi sang guru. Akan tetapi akan menjadi lain persoalan jika mengajak orang lain berguru kepadanya tanpa melihat tingkatan ilmunya. sebagai contoh, seorang anak SD mendengarkan cerita seorang anak SMK yang menceritakan kepandaian gurunya dalam memperbaiki mobil. Si anak SMK bercerita berapi-api mengagumi gurunya lantas mengajak anak SD tersebut untuk berguru kepada guru SMK dan disuruh meninggalkan guru SD-nya. Apa jadinya?

Hal yang sama juga terhadap keilmuan. Ilmu itu ada tahapan-tahapannya tidak serta merta asal berguru. Demikian juga Sang Guru tidak semestinya mengajarkan ilmu kepada orang yang belum siap menerimanya sehingga salah dalam menerimanya.

Demikian yang dapat saya sampaikan mohon maaf jika ada salah. Terima kasih.

Sumber : Peribahasa

Senin, 04 Januari 2021

MEMAYU HAYUNING BAWANA

Oleh : Puji Hermawan, S.T.


Salam Persaudaraan

Para kadang warga dalam ajaran PSHT ada sesuluh Memayu Hayuning Bawana betapa mulianya ajaran ini. Semua tahu tidak mudah untuk melaksanakannya maka dari itu para kadang diajari ilmu bela diri untuk membantu dalam menjalankan Memayu Hayuning Bawana. Lalu apa sih Memayu Hayuning Bawana itu?

Dalam ajaran Islam Allah menciptakan Adam untuk menjadi Khalifah di muka buni. Tugas utamanya adalah menjaga dan memelihara ketertiban dunia. Bukan sebaliknya menjadi pembuat kekacauan (troble maker). Alangkah damainya negeri ini jika semua orang bukan hanya warga PSHT bmenyadari dan mengamalkan hal ini.

Tawuran yang dilakukan oleh onum warga PSHT tidak seharusnya terjadi jika semua warga PSHT menjalankan ajaran ini. Jika ada permasalahan selalu klarifikasi terlebih dahulu sebelum melakukan pengerahan masa. Apa lagi jaman sekarang era komunikasi semua informasi dapat segera tersebar ke seluruh penjuru negeri bahkan dunia. Kemudahan mendapatkan informasi seharusnya diimbangi dengan perbaikan karakter agar tidak dengan mudah menyimpulkan informasi yang diterima.

Baca juga : BERBILANG DARI ESA MENGAJI DARI ALIF

https://www.youtube.com/watch?v=ZF0DXB5-LX0&t=4s

Lantas bagaimana lakune agar dapat memayu hayuning bawana? Lakune yaitu: “Beciking Laku” adalah selalu berbuat baik dan senantiasa menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Tuhan. Implementasinya adalah laku tirakat batin. Apa itu tirakat batin? Tirakat batin adalah menjaga hati agar selalu ingat kepada Tuhan. Jika hati kita selalu ingat kepada Tuhan maka tingkal laku dan perbuatan kita akan selalu berusaha berbuat baik. Karena kita takut kepada Tuhan. Walaupun tidak ada orang lain yang melihat kita tetap yakin kalau Tuhan Maha Melihat. Tidak ada sedikitpun perbuatan kita yang lepas dari pemantauan Tuhan. Oleh sebab itu kita harus tetap menjaga hati agar hati kita tidak terkotori oleh niatan untuk berbuat tercela.

Sumber :

Kang Mas Sopah Ranting Comal Cabang Pemalang,

Kang Mas Alm. Bambang Lukiarso Ranting Comal Cabang Pemalang

Kang Mas Alm. Lukman Prabowo Ranting Comal Cabang Pemalang

Kang Mas Alm. Pujiantoro Solo